Selamat Datang di Website SMP Namira Islamic SChool Medan
: - Kamis, 14-11-2019
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

( Peranan Orangtua)

Oleh : Sahrialsyah S.

Allah berfirman dalam Surat An-nisaa ayat 1 yang artinya :”Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu diri dan Allah menciptakan dari padanya istrinya dan dari suami istri itu Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”

Ayat ini  sekaligus menunjuk kepada asal keluarga, yaitu terdiri dari suami, istri dan anak-anak.

Di dalam kamus Al- Munjid dijelaskan sebagai mana yang dikutip oleh Lathief, bahwa yang dimaksud dengan keluarga ( ‘aalilatur rajul),ialah istrinya dan anak-anaknya serta orang –orang yang berada di bawah tanggungannya dan kerabatnya. Juga di dalam “Daaiiratu Ma’aarifil Qarnil ‘Isyruuna” dijelaskan, bahwa keluarga itu ialah ahli bait seseorang dan kaum keluarganya.sementara itu di kalangan kita di Indonesia, terutama dalam peraturan pemerintah , yang dimaksud dengan keluarga itu ialah suami, istri dan anak-anaknya, betapa penting dan besarnya peranan keluarga dalam hal ini Ibu dan Ayah dalam membina kehidupan Islami dalam keluarga.[1]

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Secara antropologi, keluarga adalah suatu kesatuan social terkecil dalam masyarakat, yang memiliki hubungan genoalogis, berdiam pada tempat tinggal yang sama, saling berinteraksi, berbagi, kerjasama ekonomi, mendidik, melindungi, merawat, dan sebagainya. Inti sebuah keluarga adalah ayah, ibu, dan anak.[2] Meski demikian, dalam ukuran yang lebih luas, keluarga juga terdiri dari ayah, ibu, anak-anak, kakek, nenek, paman, bibi, bahkan anggota kerabat lainnya.

Meskipun merupakan unit terkecil, namun tegaknya bangunan suatu masyarakat dan bangsa sangat tergantung pada keberadaan keluarga. Jika dalam suatu masyarakat atau bangsa setiap keluarganya kuat, terdidik, terampil dan shaleh, maka masyarakat itu akan kokoh, maju, dan sejahtera, karenanya, keluarga adalah basis penentu bagi mewujudkan bangunan suatu tatanan masyarakat yang baik. Sebab, keluarga merupakan salah satu pusat dan lingkungan penddikan yang tidak tergantikan oleh pusat pendidikan manapun juga.[3] Lingkungan keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama, di mana ia menerima pengaruh dari anggota keluarganya, terutama kedua orangtua.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniyah maupun ruhaniyah, menumbuhkan hubungan yang harmonis setiap manusia dengan Allah, manusia dengan Alam semesta.[4]

Pendidikan Agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan Intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan (sentiment) agama saja, akan tetapi menyangkut keseluruhan  diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan amaliah sehari-hari sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan tuhan, sesama manusia dan alam. Oleh karena itu, maka pendidikan agama itu, akan lebih berkesan dan berhasil guna, serta berdaya guna, apabila seluruh lingkungan hidup, yang ikut mempengaruhi pembinaan pribadi anak (keluarga, sekolah dan masyarakat), sama-sama mengarah kepada pembinaan jiwa agama.[5]

Agama Islam di lingkungan keluarga berlangsung antara orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan agama, dan anak-anak sebagai sasaran pendidikannya. Sedang ibu dalam kaitannya dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga, maka kedudukannya sebagai pendidik yang utama dan pertama, dalam kedudukannya sebagai pendidik, maka seorang ibu tidak cukup hanya memanggil seorang guru agama dari luar untuk mendidik anaknya di rumah, dan bukan dalam pengertian yang demikianlah yang dimaksud dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga. Akan tetapi lebih ditekankan adanya bimbingan yang terarah dan berkelanjutan dari orang-orang dewasa yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga untuk membimbing anak.

Pengertian yang jelas tentang pendidikan agama yang dilakukan di lingkungan keluarga interaksi yang teratur dan diarahkan untuk membimbing jasmani dan rohani anak dengan ajaran Islam, yang berlangsung di lingkungan keluarga. Dalam pelaksanaannya, maka proses pendidikan

Pendidikan pada umumnya terbagi pada dua bagian besar, yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Hal ini berdasar pada: “Maka proses belajar itu bagi seseorang dapat terus berlangsung dan tidak terbatas pada dunia sekolah saja.[6]

Pendidikan Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun social.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga adalah karena didorong oleh beberapa hal yaitu:

  1. Karena dorongan cinta kasih terhadap keturunan
  2. Karena dorongan atau tanggung jawab sosial
  3. Karena dorongan moral
  4. Karena dorongan kewajiban agamis[7]

Dan dorongan agama inilah yang membuat kedudukan orang tua lebih besar tanggung jawabnya dalam pendidikan karena dorongan kewajiban ini langsung diperintahkan Allah.

Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang diproses oleh seseorang di dalam lingkungan rumah tangga atau keluarga. Sistem pendidikan ini merupakan unsur utama dalam pendidikan seumur hidup, terutama karena sifatnya yang tidak memerlukan formalitas waktu, cara, usia, fasilitas, dan sebagainya. Pada dasarnya, masing-masing orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka tidak hanya berkewajiban mendidik atau menyekolahkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan. Akan tetapi mereka juga diamanati Allah SWT untuk menjadikan anak-anaknya bertaqwa serta taat beribadah sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits..

Dalam hubungan ini orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama bagi anggota keluarga. Khususnya anak, karena akan sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan anak. Oleh sebab itu orang tua berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan contoh konkrit berupa suri tauladan kepada anak agar mereka dapat hidup selamat dan sejahtera.

Sasaran Pendidikan Agama ditujukan kepada semua manusia sesuai  dengan misi nabi Muhammad SAW yaitu untuk seluruh alam. Ditujukan mulai kepada anak usia dini, remaja, dewasa dan lanjut usia dalam istilah pendidikan disebut Long Live Education (pendidikan seumur hidup).

Pendidikan anak usia dini (0-6 tahun) dimulai dari anak dilahirkan sampai berumur 6 tahun dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Masa bayi (0-2 tahun), di telinga sebelah kanan bagi anak laki-laki di perdengarkan adzan[8], dan diqamatkan di telinga sebelah kiri bagi perempuan.
  2. Aqiqah, pada hari ke tujuh kelahiran seorang bayi disunnahkan bagi orang tua atau walinya untuk melakukan aqiqah yakni menyembelih satu ekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak laki-laki.
  3. Khitanan, peranan ibu sangat dominan dalam menanamkan pendidikan agama kepada anak di usia ini.

Setiap hari seorang ibu perlu memperhatikan perkembangan yang terjadi pada anaknya baik secara biologis maupun psikisnya. Perkembangan anak sesuai dengan tahap-tahap umur tertentu yang perlu diketahui orang tua agar bisa memperlakukan anak dengan benar. Anak berumur 6  tahun tidak disebut bayi lagi, tetapi sudah disebut anak-anak masanya pun disebut masa kanak-kanak.[9]

Anak adalah amanah dari Allah SWT yang dititipkan kepada orangtua. Sebagai amanah, Islam mewajibkan kedua orangtua untuk menjaga, memelihara, dan mendidik anak sesuai dengan kehendak atau si Pemberi amanah, Yakni Allah SWT. Dalam perspektif ini, di antara kewajiban orangtua kepada anak adalah : (1) member nafkah yang halal,[10] (2)mencintai dan menyayangi anak,[11] (3) mendoakan anak dengan doa yang baik,[12](4)mendidik anak mengerjakan sholat,[13] (5) bersikap hati-hati terhadap anak,[14](6)  mendidik anak agar berbakti kepada Ibu-Bapak,[15](7) berupaya memelihara anak dari api nereka,[16] Dalam melaksanakan semua kewajiban tersebut orangtua harus berupaya menciptakan suasana kedamaian dalam Rumah tangga.

 

 

 

 

 

 

[1] Lathief Rousydiy, Membina Kehidupan Islami dalam Keluarga dan Lingkungan Kerja, ( Medan : Rimbow, 1987), h.16-17.

[2] Lihat Wahyu, Wawasan Ilmu Sosial Dasar( Surabaya : Usaha Nasional, 1986), h. 57.

[3] Lihat Dja’far Siddik, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Citapustaka Media, 2006), h.185.

[4] Haidar Putra Daulay,Kapita Selekta Pendidikan Islam Di Indonesia,( Medan :Perdana Publishing,2012), h.1.

[5] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1970), h. 107.

[6] Mahfud  Khoirul , Pendidikan Multikultur, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar,  2006), h.22.

[7] Arifin  Muzayyin, Kapita selekta pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),h.76.

[8] Abu Rafi’ r.a. menuturkan : Aku melihat Rasulullah Saw memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali bin Abi Thallib ketika dilahirkan Fatimah ( H.R. Abu Dawud dan al- Tirmidzi )

[9] Nata  Abuddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 1997), h.32.

[10] Lihat Q.S, Al-Baqarah (2) : 233.

[11] Lihat Q.S, Ali Imran (3) : 140.

[12] Lihat Q.S, Al-Furqan (25) : 74. dan Al-Isra’(17) : 24.

[13] Lihat Q.S, Thaha (20) : 132.

[14] Lihat Q.S, Al- Thaghabun (64) : 14.

[15] Lihat Q.S, An-Nisa (4): 36, Al- An-am (6) : 151, dan Al- Isra’ (17): 23

[16] Lihat Q.S, At-Tahrim (66) : 6.

TINGGALKAN KOMENTAR